Sejak Islam masuk di Jawa sekitar abad 10 M yang ditandai dengan makam di Leran Gresik, Jawa secara umum bukanlah wilayah yang kosong budaya. Namun Jawa telah memiliki budaya yang tidak saja berakar dari tradisi local, tetapi memang telah mengakomodasi budaya yang bermuara pada agama terutama agama Hindu dan Budha yang datang dari India. Kedua agama ini bahkan akhirnya untuk waktu yang cukup lama menjadi panutan pada hampir seluruh masyarakat Jawa, meskipun harus diakui bahwa agama tradisi masyarakat Jawa yang bersumber pada animisme dan dinamisme memang terus mengakar bersama penerimaan terhadap ajaran Hindu-Budha. Ketika Islam datang di Jawa, masyarakat Jawa berada dalam kondisi seperti tersebut, dengan sifatnya yang akomodatif secara budaya dan politik akhirnya Islam di terima oleh masyarakat Jawa.
Secara politik di tandai dengan berdirinya pesantren-pesantren di Jawa Timur yang puncaknya adalah berdirinya kerajaan Islam Demak, sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa berdiri sekitar tahun 1478 M. Pada masa Demak ini tampaknya upaya serius para ulama untuk mengadakan gerakan dakwah sangat intensif. Corak gerakan ini tampak dalam dua wajah yakni gerakan budaya dan gerakan politik.
Dalam batas-batas tertentu perubahan politik tersebut juga diikuti hegemoni kebudayaan dari Hindu Budha kepada Islam. Semua ini memang dapat dipahami, karena nilai-nilai ajaran Islam khususnya bidang tasawuf dalam Islam memiliki kedekatan dengan ajaran-ajaran moral Hindu dan Budha. Walaupun sebenarnya dalam banyak hal perbedaan tersebut sangat mencolok seperti bahwa Islam menganut paham ke Esa-an Tuhan, sementara pada agama Hindu percaya banyak Dewa, sementara agama Budha pada kekuatan budi manusia.
Apalagi dalam bidang syari'ah, perbedaan tersebut sangat mendasar dari yang semula "puja" dewa menjadi Allah yang tercermin dalam pelaksanaan rukun Islam lima (sahadat, Salat, Puasa, zakat, haji). Dalam ajaran kemanusiaan yang sering ditunjuk sebagai suatu kedekatan, juga sebenarnya ada perbedaan yang mendasar, seperti Islam meyakini semua manusia sama kedudukannya, sementara dalam agama Hindu Budha mengenalkan stratifikasi social yang akibat-akibatnya tidak hanya berhubungan dengan masalah dunia saja tetapi juga terhadap masalah agama, seperti tampak bahwa pemahaman agama pada Hindu menjadi monopoli kaum Brahmana, sementara pada agama Budha monopoli para bhiku.
Namun uniknya bahwa masyarakat Jawa dapat menerima berbagai perbedaan tersebut. Terbukti misalnya penerimaan masyarakat Jawa secara mayoritas, indikasi nyatanya konversi agama kepada Islam. Hal tersebut merupakan suatu peristiwa yang luar biasa, dimana hegemoni kebudayaan Hindu Budha yang sudah sangat kuat di Jawa, ternyata dapat berubah. Hal tersebut mengundang banyak pertanyaan, mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang dilakukan oleh orang-orang Islam dalam peralihan kebudayaan tersebut?
Sejak datangnya Islam di Jawa sampai awal abad 20 dalam upaya perpaduan tersebut, muncul berbagai budaya yang bercorak interrelasi , antara dua entitas budaya tersebut. Memang, apa yang terjadi dengan perkembangan intelektual Islam, agaknya merupakan bagian dari transformasi Islam dari tempat lahirnya di Timur Tengah. Proses transformasi itu dapat dilihat dari banyaknya kitab-kitab para ulama Timur Tengah yang di kaji di Nusantara, atau banyaknya orang-orang Jawa yang belajar di Timur Tengah dan pulang membawa ajaran Islam. Menanggapi transformasi tersebut, tampaknya yang terjadi dalam kebudayaan Jawa adalah bagaimana menyerap nilai-nilai tersebut menjadi bagian kekayaan kebudayaan Jawa. Pada kasus terakhir ini, munculnya karya-karya intelektual Jawa harus dilihat sebagai bagian dari proses sejarah yang tak terabaikan karena realitas masyarakat menunjukkan kepada penerimaan Islam itu.
Jika dilihat dari dua kutup yang berbeda, maka Islam akan melihat proses tersebut sebagai Islamisasi kebudayaan Jawa, tetapi jika dilihat dari sisi lain, maka akan terbaca sebagai Jawanisasi terhadap ajaran Islam. Di sini muncul konsep Islamisasi Jawa dan Jawanisasi Islam, yang harus ditempatkan dalam suatu proses sejarah Jawa. Kedua konsep tersebut harus dipandang berbeda, karena dalam hal ini kita memandang yang pertama sebagai upaya serius menjadikan Islam sebagai subyek sejarah dengan cara internalisasi ajaran Islam ke dalam kebudayaan Jawa. Sedangkan yang kedua, merupakan kebalikannya, yakni respon kebudayaan Jawa yang menginginkan kembali sebagai subyek sejarah. Pada fase tersebut Islam telah mengakar di masyarakat Jawa, maka upaya tersebut harus dibaca sebagai upaya menyelaraskan atau merevitalisasi kebudayaan Jawa dengan terpaksa mengakomodasi ajaran Islam.
Secara histories kerajaan-kerajaan yang ada dan menjadi penerus kerajaan di Jawa sampai abad 20 juga merupakan kerajaan-kerajaan dengan pengaruh Islam. Hal ini sangat tampak dalam warisan-warisan yang sampai sekarang masih ada dan simbul-simbulnya adalah simbul-simbul dari zaman Islam. Dengan demikian kita melihat proses panjang sejarah Jawa dengan pengaruh kuat dari ajaran Islam.
Dalam konteks the Muslim world studies, meskipun kaum Muslim Indonesia melebihi jumlah keseluruhan populasi Muslim negara-negara Arab, Islam Indonesia merupakan lapangan studi yang sangat diabaikan. Khususnya, untuk alasan yang tidak jelas, isu-isu pada abad ke-19 M sejauh ini diabaikan oleh para ahli studi Indonesia (Indonesianist). Periode ini, dalam kenyataannya sangatlah krusial, tetapi hanya terdapat sedikit riset bertaraf internasional yang relevan.1 Kurangnya riset tersebut, baik yang dilakukan oleh sarjana Barat maupun Indonesia, lebih tampak lagi pada lapangan pendidikan. Dalam konteks ini memahami proses penyebaran ilmu pengetahuan tentu menjadi lebih signifikan dalam hubungannya dengan kajian tentang Islam Indonesia. Perlu dicatat perkembangan bahwa beberapa pusat studi di AS seperti di ASU misalnya sudah mulai mengkonsentrasikan fokusnya pada studi Islam Jawa. Sebetulnya hal ini merupakan peluang bagi kajian studi Jawa di IAIN Walisongo untuk menjalin kerjasama dalam berbagai bentuk kegiatan akademis seperti seminar riset, serta publikasi bersama.
Karena Jawa terletak pada posisi pinggiran di dunia Muslim, muncul suatu tendensi di kalangan Islamicist untuk meninggalkannya dalam setiap diskusi tentang Islam. Lebih dari itu, ada asumsi bahwa wilayah ini tidak memiliki pusat tradisi Islam yang kokoh. Islam di Jawa selama ini dinilai sebagai syncretic atau "Impure Islam" alias Islam campuran yang terkontaminasi, dan berbeda dengan Islam di pusat-pusat Islam Timur Tengah dan banyak dipengaruhi oleh tradisi-tradisi lokal. Kritik atau lebih tepatnya stereotyping semacam ini juga tidak kurang muncul dari dosen-dosen IAIN sendiri. Hal ini ironis karena Islamiicist terbesar abad 19, Hodgson justru menyaksikan hal berbeda. Menurutnya Islam Indonesia sangat mirip dengan Islam di Asia Ternggara dan juga Timur Tengah. Stereotyping terhadap Islam Jawa agaknya layak untuk diuji kembali dengan pertimbangan bahwa keberagaman sinkretisme tidak dapat dihindari tetapi masih disubordinasikan pada ajaran dasar.
Kenyataan ini sungguh menarik bagi IAIN Walisongo yang berada ditengah masyarakat Jawa. Perguruan tinggi ini memiliki sisi-sisi strategis, paling tidak dalam upaya melanjutkan gerakan dakwah yang telah dilakukan oleh para ulama sejak zaman Walisongo sampai sekarang. Tetantu dengan format dan gerakan yang berbeda sesuai dengan tuntutan zaman. Sisi strategis inilah yang melatar belakangi, perlunya IAIN Walisongo mendirikan sebuah pusat kajian yang berkonsentrasi pada kajian-kajian ilmiah interelaisi nilai-nilai Islam dan Budaya Jawa pada tahun 1998 dengan Pusat Kajian Strategis Islam dan Budaya Jawa yang sekarang menjadi Pusat Pengkajian Islam dan budaya Jawa (PP-IBJ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar